Just find out that I can write fiction as well, something i really doubt for so long. Thought i have no wild imagination to do so. Hope someday i will be able to write this dark story in longer version. enjoy
Lelanange Jagat
Oleh : Mardiyah Chamim (Terilhami dari rubrik konsultasi psikologi, Kompas, 8 Januari 2006)
Betapa aneh. Hati perempuan bisa dengan mudah dilipat, ditembus, ditikam, serta dirajam tanpa sedikit pun menjerit meneriakkan protes. Hanya dengan beberapa larik kalimat semanis anggur, kerling mata sesekali, ditambah sedikit puja-puji, sepotong hati –atau tepatnya jantung perempuan—bakal menggelepar lunglai. Bila jantung perempuan serapuh helaian daun, kenapa aku yang dipersalahkan?
Aku memang menikmati saat-saat ketika jantung seorang perempuan jatuh dari tangkainya. Persis seperti daun-daun pohon mapel tertiup angin musim gugur. Aku menikmati setiap detik adegan yang terjadi. Aku mengenang setiap gerakan lamban yang tercipta, mulai dari angin lembut datang menggelitik daun-daun hari demi hari, pekan demi pekan, kalau perlu bulan demi bulan. Sang daun yang tergelitik pelahan-lahan berganti rupa, hijau, kuning, coklat, merah marun. Lelah berganti warna, sang daun kehilangan daya hidup dan akhirnya luruh ke bumi. Sementara angin terus bebas bergerak menggelitik merayu daun-daun lain. Sungguh indah.
Akulah sang angin perkasa. Tugasku membuat daun-daun elok luruh ke bumi, memenuhi takdir mereka. Ketika daun itu luruh, ketika jantung itu menggelepar, maka seluruh sel tubuh, segenap pancaran mata, semua daya hidup seolah diserahkan pasrah bongkokan untukku. Ya, untukku seorang. Bila ada daun yang menolak luruh, aku dengan mudah mengamuk menggebrak, menghalau pohon-pohon untuk melepaskan seluruh daun mereka. Berani-beraninya mereka menolak sang angin…!
Sebagai sang angin, aku bebas berbuat apa saja. Aku memuaskan hasrat menghisap tuntas sari hidup dari segenap urat-urat lembaran daun, aku mereguk habis setiap tetes darah dari ribuan meter pembuluh pada jantung perempuan. Aku menelusuri jenjang leher mereka, ramping pinggang mereka, kedua bukit indah di dada mereka, punggung halus mereka yang dipenuhi syaraf sensitif, juga pinggul-pinggul mereka yang membentuk kurva halus. Aku melumat lidah, bertukar saliva dengan para perempuanku, aku menjelajah tengkuk mereka yang dihiasi bulu halus, mengenali setiap titik di tubuh mereka yang membangkitkan adrenalin. Inci demi inci, aku bergerak menyusuri keindahan tubuh mereka dengan kekhusyukan paling tinggi.
Satu demi satu daun gugur. Satu demi satu jantung koyak. Tanpa perlu melangkah lebih dari sepuluh jurus, kedua kaki panjang mereka langsung terbuka lebar, mempersilakan diriku masuk sepenuh-penuhnya ke dalam ruangan yang damai. Helai-helai rambut pubik meneruskan sinyal listrik yang dibawa penisku. Bagai dihangatkan anggur merah mutu terbaik, tubuh perempuan yang kusentuh segera menegang. Puting susu mereka berteriak memohon disentuh. Darah mereka mengalir deras berdebur-debur. Ribuan jalinan neuron, benang syaraf halus, di tepian klitoris berteriak dahaga menyambut kedatanganku. Dan, aku jamin, segenap tubuh perempuan itu langsung merekah serasa mencicip apel lezat dari surga.
Aku jadi mencandu. Aku, aku, akulah pencipta dan penyalur apel surgawi bagi perempuan-perempuan yang kurengkuh. Luar biasa. Apa boleh buat, kepuasan yang ditimbulkan sepotong hati yang pasrah sungguh memabukkan dan sensasional. Tak bertanding. Aku menghirup perempuan maka aku ada, agaknya cocok jadi filosofi hidupku. Layaknya pecandu, satu saja pasti tidak cukup. Bagai Arjuna, aku selalu mendambakan saat-saat ketika selembar jantung Srikandi memasrahkan diri sepenuhnya untukku. Aku selalu mengejar momen-momen menggairahkan itu. Ketika tubuh dan hati para perempuan diserahkan sepenuh cinta, sepenuh jiwa. “Kekasihku, inilah aku. Kesukaan tertinggi bagiku adalah melayanimu dengan sepenuh-penuhnya,” bisik Srikandi. Ahoi, bisikan-bisikan itu mengukuhkanku sebagai laki-laki paling jantan di seantero bumi. Lelanange jagat. Seperti singa, aku ingin segera mengencingi setiap jengkal tubuh perempuanku. Aku harus mengabarkan pada dunia bahwa perempuan ini telah kutaklukkan.
Sejak bocah aku sudah paham bahwa diriku dikaruniai sejuta pesona. Orang Jawa menyebut sikapku semanak, menebar kehangatan bagi siapa saja lawan bicara. Senyumku seperti magnet. Tubuhku liat semampai. Sorot mataku tajam menembus labirin jantung, membuat para perempuan yang kupandang serasa melambung ke awan paling tinggi. Otak yang tajam tapi liar melengkapi pesonaku. Profesiku sebagai penulis turut mempertinggi nilaiku. Saban hari aku memasok diriku dengan informasi mutakhir dari berbagai sudut pandang. Aku juga berani melontarkan sudut pandang yang berbeda dari pandangan kebanyakan orang. Tentang Tuhan, tentang seksualitas, tentang filsafat, juga tentang politik. Nah, apa yang lebih seksi dari sosok pria ganteng, berwawasan, dan sedikit liar?
Saban hari kuasah daya pikatku. Jantung tipe apa pun, perempuan secantik apa pun, bakal menggelepar mencerna pendapat-pendapatku. Ditambah dengan kemampuanku mengolah kata-kata liris, citraku sebagai arjuna semakin komplit. Benteng pertahanan para perawan dengan gampang runtuh oleh ketajaman panahku. Sedikit nasehat buat para pemuda yang ingin mengikuti jejakku: sedikit kemampuan memetik gitar akan sangat berguna untuk memikat perempuan. Di ujung malam, mainkan lagu kesukaan perempuan yang sedang kau incar, dan segalanya akan berjalan mulus. Percayalah.
Harus kau akui, kawan, aku sudah khatam jurus-jurus melumerkan jantung perempuan jauh sebelum ragaku keluar dari rahim ibu. Seluruh dunia, tak bisa tidak, disiapkan untukku. Kenikmatan merengkuh jantung-jantung elok para srikandi sudah disediakan untukku. Mereka terlalu indah untuk tidak kunikmati dengan gelora setinggi gelombang tsunami. Akulah lelanange jagat.
Seorang psikiater pernah menyebutku sebagai orang yang hanya mencintai diri sendiri, self centered, dan tak akan mampu mencintai orang lain. Mencintai diri sendiri? Narsistik? What the hell is she talking about? Tidakkah dia tahu aku begitu memuja keelokan kekasih-kekasihku? Tidakkah dia tahu para perempuanku rela membuka selangkangan mereka, menyerahkan milik mereka paling berharga tanpa kupaksa?
Lagipula, mana ada paksaan untuk sebuah percintaan. Making love, bercinta, mengisyaratkan sebuah aktivitas timbal balik yang sepadan. It takes two to tango. Bahwa aku memberikan cintaku, yang juga sama melimpah, kepada lima, enam, tujuh, perempuan sekaligus, itu urusanku. Tidak gampang, lo, melakukannya dan tidak semua laki-laki –perempuan juga, tentunya—memiliki kemampuan untuk mendua, meniga, bahkan mengenam sekaligus. Aku punya banyak laci untuk menyimpan cinta yang berlapis-lapis. Tentu saja ini bukan sesuatu yang bersifat self centered. La, aku kan juga membahagiakan mereka semua. Seperti sang angin, aku punya setiap hak untuk menyentuh ribuan helai daun pada saat bersamaan.
Akan kuceritakan padamu sedikit tentang para perempuanku. Supaya kalian tahu bahwa aku tidaklah egois, tidak self centered. Aku mau, kok, berbagi tentang mereka. Aku tidak hanya memusatkan cerita pada diriku sendiri. Psikiater goblok itu harus mengakui bahwa aku juga bisa mencintai para perempuanku.
Perlu kalian ketahui bahwa semua perempuanku adalah sosok yang luar biasa. Mereka cantik, pintar, mandiri, mapan dari segi keuangan sehingga aku tidak perlu repot membelikan kosmetik atau mentraktir saban kencan, dermawan, sekaligus juga lembut hati. Aku tidak gegabah memilih kekasih. Cewek berotak kosong, cengeng, gampangan, tidak akan sanggup menggoyah seleraku. Aku butuh partner seimbang. Sudah kubilang, kan, aku pintar, ganteng, dan baik hati. Lagipula, memilih cewek yang tidak berkualitas sangat beresiko di tengah dunia yang dipenuhi HIV/AIDS dan berbagai penyakit kelamin.
Aku juga perlu memberitahukan bahwa urutan perkenalan dengan para perempuanku kali ini tidak berdasar peringkat kecintaanku pada mereka. Kan, dari tadi kutekankan bahwa cintaku melimpah buat mereka semua. Ini juga bukan daftar pacar ala Nick Hornby dalam “High Fidelity” yang menyedihkan itu. Daftar ini adalah sepenuhnya para perempuanku, dengan gayaku sendiri. Tidak seluruh perempuan yang kusinggahi hatinya tercantum di sini. Maklum, bila semuanya ditulis, hasilnya pasti bukan lagi cerita pendek.
*****
Maria. Perempuan ini menyedot seluruh jiwa lelakiku sejak pertama aku mengenalnya. Dia berhati bidadari. Karirnya cemerlang, dia kerap menjelajah Amerika dan Eropa sebagai ahli komunikasi. Aku pernah mengira dialah pelabuhanku sebenar-benarnya. Dialah yang akan membuatku tak lagi butuh menghisap madu perempuan lain.
Sayang, impian mulia itu buyar ketika pada suatu hari yang penuh bunga aku melamar dia. Orang tua Maria, sepasang petani yang saleh, menangkap aura kecanduanku akan perburuan cinta. “Dia tak baik buatmu. Laki-laki seperti dia tak pernah cukup dengan seorang perempuan, Nak,” kata sang ayah kepada si gadis. Dalam hati aku membenarkan pendapatnya. Tapi, apa kelirunya, sih, dengan hal itu? Bukankah agama pun membuka ruang buat poligami?
Penolakan ayah Maria membuatku sangat kecewa. Aku terbanting. Lebih menyakitkan hatiku, Maria mengangguk saja mengamini pendapat ayah-bundanya. Sumpahku terlontar, arjuna ini tak boleh ditolak. Apa pun yang terjadi, suatu saat Maria pasti akan kunikahi. Harga diriku terlalu tinggi untuk menerima penolakan. Aku langsung menjelajah hutan, mencari guru yang bisa memberikan ilmu dan aji-aji pemikat. Hutan-hutan gelap di Banten, Pati, Gunung Kawi, Dieng, kudatangi. Puasa empat puluh hari, berendam tujuh malam di sungai yang beku, sepatah pun tak mengeluarkan kata-kata kepada manusia selama satu bulan, aku lakukan. Doa segala doa, mantra segala mantra, kuhafal dan kuhayati. Semuanya untuk menaklukkan Maria dan keluarganya.
Benar saja. Tak sampai dua pasang musim berlalu, aku datang lagi ke rumah Maria, di pedesaan Gunung Kidul, Yogya. Tanpa berbelit, ayah Maria langsung memberi izin. “Ayah serahkan Maria kepada Ananda. Menikahlah kalian berdua, binalah keluarga yang sejahtera,” katanya hikmat.
Aku menikahi Maria. Tapi, tak ada lagi greget yang menggairahkan. Dendamku sudah terpenuhi. Daun yang satu ini sudah lepas dari tangkainya. Aku segera beralih pada daun-daun hijau sentosa yang lainnya.
****
Elok. Benar, dialah perempuan terindah yang pernah memelukku, seperti dalam lagu Iwan Fals. Bukan terindah dalam arti fisik. Jiwanya yang cantik membuat Elok mengerahkan hampir seluruh waktunya untuk membantu orang lain yang membutuhkan pertolongan. Aku kagum akan semangat dermawannya. Dia kreatif, pintar pula, tapi sedikit naif.
Elok inilah perempuan yang paling gampang kubodohi. Dia percaya seratus persen bahwa dialah satu-satunya kembang di hatiku. Tak pernah dia menyelidiki apa yang sesungguhnya terjadi. Hatinya lumer seratus persen setiap kali kubuat dia merasa nyaman dengan pelukan hangat dan ciuman panjang menghanyutkan. Hanya butuh satu dua jurus dari keahlianku sebagai lelanange jagat untuk menaklukkan jantung Elok.
Tiga tahun aku memacari Elok. Tak pernah aku berbohong menyebut diriku masih bujang. Itu bukan gayaku. Aku jujur terus terang bahwa aku lelaki beristri. Tapi, hatiku yang seluas samudera tentulah bukan hanya untuk ditempati seorang perempuan. Elok, dengan sukarela, menyediakan diri untuk menghuni ruangan di hatiku bersama-sama Maria –dan selusin perempuan lain yang dia tak tahu.
Hanya, ada susahnya memacari gadis senaif Elok. Berulang kali dia memaksaku menikahinya secara resmi. Gawat. Maria pasti tak suka, apalagi keluarganya. Aku pun sebenarnya tidak sanggup berpoligami, biar pun kerap menggunakan alasan ini saat mendekati para perempuan. Hidup susah dikerangkeng tuntutan dari istri yang lebih dari satu, no way lah ya. Daripada ruwet, sedikit demi sedikit aku menjauhi Elok. Aku bertingkah begitu rupa, menari di atas kerapuhan gadis ini, memancing kejengkelan dia. Aku mau dia yang lebih dulu berinisiatif memutuskan tali.
*****
Lisa. Perempuan ini sesungguhnya datang jauh sebelum Elok. Aku dan dia kerap menghabiskan malam bersama di tepi pantai. Menumpang mobilnya yang nyaman, kami berkendara sering berkendara ke Anyer. Menghirup udara yang dipenuhi garam pantai, menjejakkan kaki di atas pasir putih, dan tentu saja berbaku kasih. Aku tak akan melewatkan setiap kesempatan menjelajah tubuh Lisa. Kuperlakukan perjalanan pada seluruh lekukan tubuhnya sebagaimana petualangan mengasyikkan di negeri dongeng. Mengutip John Mayer, your body is a wonderland….
Lisa datang dari keluarga sejahtera. Mobil ada, uang melimpah, karir pun bagus. Sungguh mitra strategis yang harus kujaga. Saat aku kelabakan membayar tagihan, saat aku membutuhkan kendaraan untuk mengantar pacar-pacarku yang lain, saat Maria menuntutku untuk membelikan ini dan itu, aku datang kepada Lisa. Sudah pasti aku tidak mengungkapkan alasan sebenarnya. Cukup kupasang wajah memelas, dia akan dengan suka cita mengangsurkan rupiah atau kunci mobilnya. Sekali lagi, jangan keliru, aku tidak memaksa Lisa, lo. Sama sekali tidak.
*****
Amanda. Sejak awal dia tahu bahwa kami tidak mungkin menikah. Keyakinan yang berbeda membuat pernikahan menjadi mustahil. Tapi, itu tidak menghalangi Amanda untuk terus lengket kepadaku. Tubuh dan cintanya telah dia serahkan kepada aku, sang arjuna. Namanya arjuna, aku tentu senang dengan cinta tak bersyarat Amanda. Tak ada tuntutan pernikahan, tak ada keharusan menomorsatukan, tak ada kewajiban ini dan itu. Mencumbu Amanda adalah percintaan paling rileks yang aku punya.
Kepada Amanda, aku tidak perlu memasang topeng berlapis-lapis. Dia tahu persis aku bercinta dengan Maria, Elok, Lisa, dan beberapa perempuan lain. Amanda tak peduli. “Aku hanya butuh perhatian. Pelacur butuh uang, aku butuh perhatian,” katanya. Tentu saja aku tidak menganggap dia pelacur. Dialah Amandaku yang tanpa pamrih. Dengan senyum manis dia akan memaklumi semua perbuatanku sambil menyenandungkan lagu Nina Simone, “So, you just do what you gotta do, my wild sweet love.” Aku tahu ada nada getir di dalam senandung dia.
****
Pembaca, cukup empat perempuan saja pada perkenalan kali ini. Setidaknya mereka mewakili bagaimana kehebatanku dalam soal bercinta. Tak ada perempuan meninggalkanku selama aku tidak mengizinkannya. Reputasiku sebagai lelanange jagat jadi taruhan.
Tapi, anehnya, seluruh perjalanan romansa yang kualami tidak juga membuat hatiku damai. Selalu ada saja resah. Sedikit memodifikasi Pink Floyd, aku merasa bagai jiwa tersesat, berenang di tanki akuarium, tahun demi tahun, berlari di tempat yang sama. Lalu, apa yang kutemukan?
Entah kenapa, belakangan aku juga jadi gampang dihinggapi rasa bersalah. Berenang ke kedalaman mata Amanda, aku melihat diriku sebagai laki-laki brengsek yang memanfaatkan dahaga gadis ini akan perhatian dan kasih sayang. Menyaksikan ketulusan Elok aku merasa sebagai bajingan yang tega merusak hati perawan. Menelusuri bibir ranum Maria aku merasa diriku begitu dipenuhi jutaan belatung yang menari tanpa malu.
Ah, perasaan-perasaan seperti itu mestinya tidak kumiliki. Bagaimana mungkin seorang lelanange jagat punya perasaan lembek seperti itu? Ini pasti tanda-tanda kelemahan yang harus segera diatasi. Lagipula, kenapa harus aku yang dipersalahkan bila memang hati perempuan sudah rapuh dan gampang ditipu dari sononya? Kudatangi psikiater yang pernah kumaki “goblok” sekali lagi. Aku ingin sedikit advis bagaimana mendamaikan hati yang resah. Bagaimana mencari cinta sejati dalam pelukan selusin perempuan? Tak ada jawaban memuaskan. Bukankah sudah kubilang, dia ini psikiater goblok.
Tapi, ya, sudahlah. Tak perlu bersikap melankolis. Memang takdirku begini. Aku akan terus bagai angin yang merontokkan daun demi daun. Jantung-jantung, daun-daun, yang merekah sentosa penuh daya hidup masih menunggu kedatanganku.
Hai, para perempuan, nantikan aku.
Jakarta, 10 Januari 2006